Untuk tetap survive di dunia ini, manusia seringkali tidak puas hanya dengan pengakuan akan keberadaan dirinya sebagai makhluk sosial.
Manusia senantiasa memiliki keinginan untuk mempengaruhi dan menjadi titik sentral, arah kehidupan komunitas sosialnya. Untuk itu, manusia senantiasa mengekspresikan dirinya melalui tindakan-tindakan nyata guna memperoleh dan mempertahankan kejayaan, kebanggaan, keabadian dan kemewahan hidup.
Untuk itu pula, manusia begitu gandrung dengan tahta, wanita, putera dan harta. Guna memperoleh keempat “ta” tersebut, manusia seringkali mampu berbuat apa saja, walaupun untuk itu ia harus melepaskan nilai-nilai luhur dan moral keagamaan mereka. Bahkan lebih dari itu, seperti yang tersirat dalam ayat al-Qur’an surat Ali Imran : “Dijadikan indah pada (pandangan) mereka (manusia), kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak, harta yang berlimpah mulai dari emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia ini dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Q.S. 3 : 14).
Terhadap ketiga “ta” yang terakhir, manusia banyak yang rela mengorbankan apa saja, termasuk nyawa mereka. Mengapa ?.
Manusia diciptakan oleh Allah tidaklah persis sama. Masing-masing manusia mempunyai kelebihan atas yang lain. Karenanya, manusia memiliki keinginan untuk menegakkan dominasinya atas yang lain. Tahta, dalam kaitan ini merupakan salah satu sarana yang paling memungkinkannya untuk mengekspresikan kecenderungan tersebut.
Wanita, hingga hari ini masih tetap sebagai simbol kedamaian, simbol keindahan, simbol kelembutan dan juga simbol kasih sayang. Wanita memiliki daya tarik yang demikian bernilai bagi kehidupan manusia. Perhatian dan kasih sayang serta kelembutan yang terpancar mampu menghipnotis seseorang untuk senantiasa mendekat dan memperoleh perhatian dan kemanjaan.
Putera merupakan wujud dari keinginan manusia untuk mengekspresikan diri sebagai sebuah eksistensi yang abadi. Tetapi hukum alam manusia sebagai makhluk yang hanya sementara waktu singgah di bumi, menjadikan anak-anak cucunya sebagai media ekspresi keabadian yang paling memungkinkan.
Sementara harta akan memungkinkan kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Bahkan dalam banyah hal, penguasaan manusia atas harta juga merupakan ekspresi dari kekuasaan mereka atas alam sekelilingnya. Karenanya, manusia seringkali mengeksploitasi diri guna memperoleh harta bukan karena kebutuhan mereka, tetapi karena keserakahan akan penguasaan, baik terhadap alam maupun terhadap umat manusia. Yang pasti, harta memungkinkan umat manusia memperoleh kemewahan dan kemegahan hidup di dunia ini.
Dengan kata lain, melalui tahta, manusia menjadi begitu dominan, begitu berkuasa atas orang lain. Melalui wanita, manusia menjadi makhluk yang senantiasa memperoleh perhatian, pelayanan dan kasih sayang. Melalui putera-puteri manusia mampu melanjutkan “keabadian“ esksistensinya di atas bumi. Sementara dengan hartanya manusia mampu mewujudkan keinginan-keinginan mereka atas dunia materi.
Keinginan-keinginan tersebut, yang merupakan keinginan-keinginan dasar manusia, merupakan motivasi utama bagi dinamika kehidupan manusia. Persoalannya adalah, manusia seringkali terjebak dalam memandang keempat “ta” tersebut sebagai sebuah kebutuhan yang harus terpenuhi, sebagai sebuah tujuan yang harus dicapai, bukan sebagai sarana yang dapat mereka gunakan guna memperoleh kajayaan dan martabat hidup, kedamaian dan kasih sayang, keabadian, kemegahan dan ketenangan. Sehingga bagi orang-orang yang terjebak dalam pandangan yang demikian itu, keempat “ta” tersebut menjelma menjadi tuhan-tuhan baru yang disembah, dipuja sedemikan rupa dan harus selalu dekan dengan dirinya, bukan dengan orang lain.
Itulah sebabnya, secara dini, Allah telah mengingatkan kita : “Katakanlah, inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu ?. Untuk orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Dan ada pula isteri-isteri yang yang disucikan serta keridlaan Allah. Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a : Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan yang memohon ampun di waktu sahur” (Q.S. 3 : 15-17).
Dengan kata lain, Allah seakan berbicara kepada umat manusia bahwa begitu seseorang menjadikan keempat “ta” tersebut sebagai tujuan hidup mereka, orang tersebut telah terjebak hanya menjadi makhluk sosial-biologis semata-mata. Makhluk yang keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan kepentingan-kepentingan dasar kemanusiaan mereka terukur secara matematis-materialistik. Padahal, pada sisi yang lain, ada juga kebutuhan-kebutuhan dasar kemanusiaan yang—sesuai dengan fithrah immaterial yang ada dalam dirinya—bersifat spiritual. Yakni, komitment untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah, dengan menundukkan segala kepentingan, kebutuhan dan keinginan-keinginan mereka dalam bingkai ‘ridla Allah’, bukan dalam bingkai ‘nafsu’, ’syahwat’ atau ‘ego-personal’ mereka. Keteguhan dalam memegang komitment inilah, nilai martabat kemanusiaan akan terukur. Semakin teguh seseorang memegang komitment tersebut, semakin merangkak naik martabat mereka, melampaui martabat ‘hanya sebagai makhluk biologis’. Sebaliknya, semakin pudar seseorang dalama memegang komitment tersebut, semakin jatuh martabat kemanusiaan mereka. Kiranya, sudah banyak fakta terhampar di depan kita sebagai pepeling, sebagai ‘ibrah bagi kita semua. Wallahu A’lam bish-shawab.