Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang berbicara tentang kebijaksanaan, perintah atau larangan dimulai dengan kata, ‘Hai orang-orang yang beriman’ (Ya ayyuhal-ladzina amanu). Tetapi, siapakah orang yang beriman itu dan apa sifat-sifat yang membedakannya dengan orang-orang yang tidak beriman ?
Iman, sebagaimana yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, memiliki pengertian yang transendental. Iman, adalah percaya kepada Allah Yang Maha Esa, percaya kepada rasul-Nya, percaya kepada hari kebangkitan, percaya kepada ayat-ayat Allah, bertaqwa kepada-Nya, bersyukur atas segala nikmat-Nya, dan taat kepada seluruh perintah-Nya.
Orang-orang yang beriman, kata Allah, adalah mereka, yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan apabila mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal (Q.S. 8:2). Dengan kata lain, syarat pertama yang harus dimiliki oleh orang yang beriman adalah seseorang harus mencapai tingkat perenungan dan pemahaman yang menghantarkannya melihat dunia dan segala isinya bukan sebagai gejala alam semata, melainkan sebagai tanda-tanda (ayat) adanya Allah, sekaligus sebagai wujud nyata kemuruahan-Nya kepada manusia. Manusia beriman, dengan akal yang dimiliki akan sampai pada pengakuan terhadap segala sesuatu yang ada sebagai tanda-tanda kebesaran Allah (Q.S. 30:22-24; 16:69).
Implikasi etis dari iman, yang selalu dikonotasikan dengan agama ini, pada gilirannya meniscayakan orang-orang yang beriman memiliki beberapa karakter yang berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman. Dalam konteks yang berbeda, dapat dikatakan bahwa orang yang beriman (dalam konteks agama) adalah orang-orang yang mendirikan shalat (Q.S. 8:3) dan memeliharanya (Q.S. 23:9) Yang dimaksud dengan ‘mendirikan dan memelihara shalat’ dalam kedua ayat tersebut adalah orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (Q.S. 23:2). Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang pada melalui malam harinya dengan berdiri dan sujud untuk memuji Allah, Tuhan mereka; orang-orang yang berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari azab neraka, yang mengakui tidak ada Tuhan selain Allah (Q.S. 25:64-65).
Dalam konteks moral, orang yang beriman adalah orang yang berjalan dengan rendah hati, beramal shalih dan hidup sederhana; orang-orang yang tidak melampaui batas dan orang-orang yang amanah dan memegang teguh janji-janji yang telah mereka sepakati (Q.S. Q.S. 23:7-8). Dalam kaitan ini, Rasulullah menegaskan dengan sabdanya : “al-muslimuuna ‘inda syuruuthihim”, orang-orang Islam itu menjadi terikat dengan janji-janji yang telah mereka tetapkan bersama.
Dalam konteks sosial, orang yang beriman adalah orang yang tidak boros dan tidak pula kikir, tetapi selalu berada di antara keduanya, yang mengucapkan ‘salam’ kepada orang-orang jahil yang menyapanya (Q.S. 25:67), orang-orang yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka (Q.S. 8:3), orang-orang yang menunaikan zakat (Q.S. 23:4), orang-orang yang saling kasih mengasihi sesamanya dan orang-orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan (al-birr) dan taqwa, orang-orang yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap kehidupan dan kesejahteraan orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan orang-orang yang tertimpa kemalangan (Q.S. 9:60).
Dalam konteks hukum, orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang tidak sudi menyaksikan kemungkaran, orang-orang yang tidak mau memberikan persaksian palsu, orang-orang yang tidak membunuh kecuali ada sebabnya, dan tidak berbuat zina (Q.S. 25:68-72), orang-orang yang senantiasa memiliki komitmen yang tinggi dalam menjung supremasi hukum dan menegakkan keadilan. Berlaku adillah kamu, sesungguhnya berlaku adil itu sangat dekat menuju ketaqwaaan. Dalam ayat yang lain, Allah juga mendefinisikan orang-orang yang beriman sebagai : ‘orang-orang yang bertaubat, yang mengabdi dan memuji Allah, yang ruku’ dan sujud di hadapan-Nya, yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan yang menegakkan hukum-hukum Allah’ (Q.S. 9:112). Wallahu a’lam bish-shawab