Paling tidak, ada dua alasan mengapa kita, umat Islam harus menjadi kaya ! Demikian kata seorang ustadz, ketika memompa semangat kerja santri-santri yang sedari tadi dengan tekun dan takdzim mendengarkan, mengamini apa yang diajarkan sang ustadz. Pertama, Allah dan Rasulullah sangat menganjurkan umat Islam untuk bekerja dan terus bekerja mencari harta kekayaan, seimbang dengan anjuran melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Yaa ayyuhal ladziina amanuu, Idzaa nuudiya lish-shalaati min yaumil jum’ati fas’au ilaa dzikrillaahi wa dzarul bai’, dzaalikum khairul lakum in kuntum ta’lamaun. Wa idzaa qudliyatish shalaatu fantasyiruu fil ardli wabtaghuu min fadlillaah wadzkuruu Allaaha katsiiran la’allakum tuflihuun (Q.S. 62 : 9-10) Hai orang-orang yang beriman, apabila seruan (adzan) shalat jum’at telah dikumandangkan, maka bersegeralah kamu mengingat Allah (dengan mendirikan shalat) dan tinggalkanlah jual beli. Demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila ibadah shalat jum’at telah selesai didirikan , maka bertebaranlan kamu di muka bumi, mencari karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Wabtaghi fiimaa ataaka Allah ad-daaral akhirat wa laa tansa nashibaka minad dunyaa wa ahsin kamaa ahsana Allahu ilaika wa laa tabghil fasaada fil ardli, inna Allaha laa yuhibbul mufsidiin Carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. al-Qashash (28) ayat ke-77. Demikian perintah yang sangat kuat dari Allah untuk kita laksanakan. Kata sang Ustadz.
Kedua, untuk dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan sempurna, seorang muslim mau tidak mau harus menjadi kaya, memiliki harta kekayaan terlebih dulu. Demikian sambung sang Ustadz. Untuk dapat mendiriklan shalat dengan baik seseorang membutuhkan kain yang panjang dan lebih dari satu stel untuk menutupi aurat dan suci dari najis. Untuk memiliki bahan pakaian yang panjang dan lebih dari satu stel, seorang muslim tentunya harus memiliki kekayaan yang banyak, yang memungkinkannya untuk membeli pakaian selain untuk mencukupi kebutuhan pokok akan makan-minum setiap harinya. Untuk dapat melaksanakan ibadah zakat misalnya, seorang muslim harus memiliki harta yang banyak, baru dapat menunaikannya. Kalau lah seorang muslim tidak cukup kaya untuk menunaikan zakat, ia menjadi bagian dari mustahiq zakat, orang yang memiliki bagian atas harta zakat yang terkumpul dari saudara-saudara mereka yang mampu. Hanya saja Rasulullah menyatakan bahwa : al-yadul ulya khaitun minal yadis sulfa. Tangan yang di atas itu lebih baik dari tangan yang di bawah. Apalagi untuk dapat menunaikan ibadah haji ke Baitullah, Makkah al-Mukarramah, seorang muslim tidak akan dapat menunaikannya jika tidak cukup bekal kekayaan yang ada pada mereka. Kalau masih belum punya, shalat jum’at itu hijjul fuqara wal masakin, ibadah hajinya orang-orang fakir dan miskin, orang-orang yang masih belum berpunya. Tetapi, seorang muslim baru dianggap sempurna keislamannya setelah ia mampu melaksanakan seluruh rukun Islam yang lima, yakni : syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Karenanya, seorang muslim wajib menjadi kaya untuk dapat menjadi muslim yang baik, yang dapat melaksanakan ibadah-ibadah tersebut secara lengkap. Kata sang Ustadz.
Itulah sebabnya, Islam senantiasa mendorong umatnya untuk selalu bekerja dan bekerja, mengais rizki Allah yang akan dilimpahkan kepada seseorang manakala orang tersebut tanpa kenal lelah, bekerja dan bekerja memburu dan mencari rizki tersebut. ka dal fakru an yakuna kufran, kefakiran itu hampir-hampir mendorong, menjadikan sesorang jatuh dalam kekafiran. Demikian kata Rasulullah dalam sebuah kesempatan, Sementara Ali ibn Abi Thalib, dalam sebuah statement juga menekankan bahwa cita-citaku adalah cita-cita pemimpin, jiwaku addalah jiwa orang-orang yang merdeka dan saya melihat kefakiran adalah kekufuran (himmati himmatur rijal wa nafsi nagsu hurrin war a al-faqru kufran). Persoalannya adalah, kalau melalui anjuran dan ajaran yang sama Rasulullah berhasil mengentaskan problem kefaqiran dan kemiskinan dalam masyarakat Islam pada masa tersebut dan bahkan kemudian menghantarkannya menjadi kiblat umat manusia seluruh dunia. Mengapa ketika umat Islam menjadi mayoritas, problem kefaqiran dan kemiskinan malahan menjadi semakin meluas. Umat Islam yang diharapkan mampu menjadi kekuatan yang sangat signifikan dalam mewarnai dan memecahkan problem-problem sosial-kemasyarakatan umat yang lain di dunia ini, malahan menjadi problem yang harus dibantu dan diperhatikan oleh umat yang lain di dunia ini. Itulah tantangan kita hari ini dan hari-hari yang akan datang yang membentang di hadapan kita. Butuh sebuah sistem yang mampu memotivasi dan menggerakkan kebekuan menjadi dinamika kebersamaan menuju kesejahteraan. Wallahu A’lam bish-shawab.